Banjir Bandang dan Longsor Dahsyat Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, Lebih dari 160 Tewas dan 1.500 Hilang

Source: Detikcom
KATHMANDU — Wilayah perbatasan antara Nepal dan Tibet (Tiongkok) dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor dahsyat pada Rabu (26/8/2026). Peristiwa yang dipicu oleh aktivitas gletser di pegunungan Himalaya ini tercatat sebagai salah satu bencana alam paling mematikan di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga Jumat (28/8/2026), otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 162 hingga lebih dari 170 orang meninggal dunia. Selain itu, sekitar 1.500 orang dilaporkan masih hilang di kedua sisi perbatasan. Di antara korban hilang, terdapat ratusan wisatawan asing dan peziarah yang sedang melakukan perjalanan di rute pegunungan tersebut.
Dipicu Runtuhnya Gletser
Para ahli iklim dan badan meteorologi setempat menduga kuat bencana ini disebabkan oleh fenomena Glacial Lake Outburst Flood (GLOF) atau runtuhnya gletser raksasa di sisi wilayah Tibet. Bongkahan es dan material batu dalam volume masif runtuh dan sempat membendung aliran sungai di bawahnya.
Ketika bendungan alami tersebut jebol, dinding air bercampur lumpur dan batu menerjang ke hilir. Permukaan air di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Lhende Khola dilaporkan melonjak hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit, menyapu apa pun yang berada di jalurnya.
Infrastruktur Lumpuh Total
Arus deras menghancurkan puluhan desa, merubuhkan jembatan penghubung antarnegara, memutus jalan raya utama, serta merusak beberapa proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Beberapa distrik di Nepal kini terisolasi sepenuhnya dari dunia luar.
"Skala kerusakannya sangat masif. Akses darat terputus total karena jalanan tertutup material longsor dan beberapa jembatan beton runtuh dihantam air," ujar perwakilan tim penyelamat di Kathmandu.
Evakuasi Terhambat Cuaca Ekstrem
Pemerintah Nepal dan Tiongkok telah mengerahkan tim penyelamat gabungan berskala besar, melibatkan militer, helikopter, dan teknologi drone untuk memetakan lokasi korban. Namun, operasi kemanusiaan ini berjalan lambat akibat medan yang ekstrem, kabut tebal, dan cuaca buruk yang masih membayangi kawasan Himalaya.
Para aktivis lingkungan mengingatkan bahwa bencana ini menjadi alarm keras atas percepatan pencairan es di kawasan Himalaya akibat perubahan iklim global, yang membuat wilayah dataran tinggi menjadi semakin tidak stabil dan rawan bencana.

Posting Komentar

0 Komentar